AKU

Namaku Sumiyati, sejak sekolah teman-temanku lebih akrab memanggilku cumey dan terbawa hingga sekarang. 20 Juni 2018 nanti usiaku genap 23 Tahun. Aku lahir disebuah kampung bernama Anggaraksan, aku tidak tahu kenapa kampungku dinamai Anggaraksan, jika sempat barangkali nanti aku bakal nyoba nanyain tentang itu ke orang-orang tua dikampung.

Sebenarnya, jika Almarhum kakakku hidup aku adalah anak kedua dari orang tuaku, tetapi sayang kakakku meninggal ketika usianya sekitar tiga atau empat tahun, sakit parah kata ibu. Aku belum lahir ketika kakakku meninggal. Kata ibu kakakku dulu bernama Asep Yulistiana, putra pertama yang tampan dan rajin, ibu selalu bangga ketika menceritakan almarhum kakak. karena kakak meninggal, jadilah aku sekarang si sulung itu.

Aku lahir dari keluarga yang sederhana, Ibuku bernama Jumyati sedangkan ayahku bernama Antara. Aku selalu lupa tanggal lahir mereka, jika dianggap anak durhaka terserah saja. Tapi berhubung ini sebuah tulisan jadi aku bisa coba mengintip tanggal lahir mereka di kartu keluarga,tunggu sebentar.....

Yaps, ibuku dilahirkan ditempat yang sama sepertiku, dulu kampung Anggaraksan masuk dalam wilayah Kabupaten Ciamis, tapi sekarang sudah pindah, masuk ke Kabupaten Pangandaran, otonomi daerah kayaknya. Tanggal 6 bulan 6 tahun 1968, lebih muda 2 tahun dari Bapak yang lahir di Tahun 1966 saat tahun baru, tapi Bapak kelahiran Serang. ituloh tempat kesenian debus berasal.

Aku tumbuh menjadi anak yang ceria, Ibu dan Bapak begitu terlihat menyayangiku, mungkin karena akulah pengganti almarhum kakak. Usiaku waktu itu kira-kira sekitar 3 atau 4 tahunan, setiap sehabis sholat magrib aku selalu diajarkan mengaji, selepas itu aku tidak langsung pergi, aku akan duduk disamping Bapak untuk mendengarkan cerita kancil, mulai dari kancil dan monyet sampai buaya, kadang diulang-ulang, lucu sekali.

Ketika beranjak besar, Bapak tak lagi banyak bercerita tentang kancil, ia lebih sering mengajariku mengaji, membaca huruf-huruf arab dengan pengucapan yang tepat, aku suka dimarahi karena pengucapanku salah-salah, aku selalu sebal saat susah mengucapkan dengan benar, aku suka kesal dimarahi, tapi sekarang aku mafhum dengan begitu aku jadi tidak terlalu bodoh melafalkan kitab suci sendiri.

Sementara Ibu, selalu mengajarkanku untuk berdo'a, kapanpun. mendikte tentang sikap layaknya seorang Ibu pada umumnya, sebelum tidur kita bertiga akan sama-sama membaca doa, Ibu atau Bapak terkadang bergantian membaca ayat-ayat suci kemudian ditiupkan diubun-ubunku, waktu itu aku belum tahu untuk apa, sampai sekarang sih, hahaha mungkin agar senantiasa diberkati Alloh.





0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram