DINI DAHLIA

Dini lahir ketika aku baru saja masuk SD, itulah mengapa saat pertama aku masuk sekolah aku tidak diantarkan oleh siapapun, Ibuku hamil tua, sementara Bapak bekerja. Ibu dan Bapak selalu bilang "biar mandiri" nyatanya ia, akupun lebih berani, justru aku bingung kenapa teman-teman yang lain diantarkan kesekolah, bahkan ada yang sampai satu bulan masih diantar juga, padahal sekolah tidak terlalu jauh. hmmm....

Dini lahir tanggal 3 Agustus 2001, malam hari kalau tidak salah, waktu itu ibu mengaduh kesakitan, aku ketakutan. Aku hanya terus disamping ibu mengelus-elus perutnya, yang aku tahu Bapak, Nini dan keluarga lain juga sedang sibuk, ada yang memanggil bidan, ada yang memanggil dukun bayi dan ada yang menyiapkan peralatan, mereka terlihat sibuk sekali. Aku hanya berdo'a didalam hati berharap Ibu dan calon adikku baik-baik saja.

Sama sepertiku, Dini pun tidak kurang kasih sayang sedikitpun dari keluarga. karena dua anak yang berbeda, kami pun mempunyai sifat yang berbeda, aku cenderung keras sementara Dini cenderung masa bodo. sampai sekarang diusinya yang sudah akan tujuh belas tahun itu dia masih cuek bebek, apalagi terhadap penampilan, aku dan Ibu suka gemas.

Dulu, entah mengapa bocah itu selalu iri kepadaku, katanya " teteh aja terus yang diurusin " oh iya, dia memanggilku teteh, sebutan kakak perempuan dalam bahasa sunda. padahal aku juga suka diam-diam bilang " terus aja ngurusin dini " kalo ingat itu aku jadi ingin ketawa.

Beranjak dewasa baik aku dan dini tidak lagi mengatakan itu, kami sekarang tahu orang tua selalu tau mana prioritasnya, Ibu selalu bilang kalau ia tidak akan pernah membeda-bedakan anaknya, aku percaya itu.

Dini yang dulu tidak pernah mau ngomong ketika ku telpon, sekarang sudah lebih pandai bercerita, wataknya yang cuek memang belum hilang, ia kadang tidak mau tau kondisi yang terjadi, angan-angannya setinggi langit, mau jadi presidenlah, milyaderlah, artislah, tapi keinginan terbesarnya adalah buka rumah kuliner, karena dia hobby makan kayaknya.

Kalo aku pulang kampung suka dibercandain tetangga, mana adeknya mana kakaknya, karena memang aku lebih pendek dan lebih kecil darinya. Dia hanya ketawa-ketawa " aku kakaknya " katanya.

Dia bersekolah ditempat yang sama sepertiku, SD, SMP, SMK yang sama persis, ketika masuk SMK ibu adalah orang yang paling ribut soal itu, takut biaya mahal-lah, takut gak kejaring lah (karena NEM Dini tidak cukup tinggi sehingga Ibu tidak Pede ) kalo gak kejaring masuk sekolah dimanalah, ada aja deh yang dipikirin emak-emak, sebagai kakak aku yang bertugas untuk selalu menenangkan.

Sejak akan masuk SMK itu Dini lebih mendengar arahan-arahanku, sebaiknya masuk jurusan apa-pun dari saranku, soalnya dulu aku RPL (Rekayasa Perangkat Lunak) rasanya sayang aja melihat adek masuk kejurusan yang sama sementara kamu sudah tahu akan percuma jika tak diteruskan ke jurusan yang sama selanjutnya, aku tidak memastikan Dini tidak akan melanjutkan kuliah, tapi rasanya kalau RPL terlalu rumit, Dini orangnya gampang sekali pusing, jika dia harus membuat rumus-rumus program dengan php, html, mysql sudah pasti otaknya panas, hahaha untuk itulah aku menyarankan untuk masuk desain audio visual, walaupun aku sendiri tidak yakin dia jago, tapi setidaknya ilmu itu yang bakal terpakai diera modern ini, orang lebih senang dengan audio visual untuk menyampaikan informasi.

Taun depan, Ia sudah kelas dua belas, itu artinya mendekati masa Praktek Kerja Lapangan, aku justru sibuk bertanya-tanya tempat PKL untuk dia, dia tetap saja masih cuek dan tidak mau tau, gimana nanti aja katanya.


----


Sekarang Dini sudah lulus dan sudah bekerja di PT. Indoprima Bionet, tempat dimana aku dulu juga pernah bekerja. 







0 komentar:

Posting Komentar

My Instagram